Tempat itu terletak di sisi utara jalan. Dengan diapit oleh sebuah mini market dan bengkel sepeda motor, nyaris tak terlihat mencolok. Ditambah dengan ukuran rukonya yang terbilang kecil, hanya sekitar 11x3 meter banyak orang yang tak mengira tempat itu adalah sebuah cafe.
Jika masuk lebih dalam lagi akan terlihat meja kecil bernomor 1 sampai 8 yang tertata menjadi 2 baris. Di ujung ruangan hanya terdapat televisi 21 inch yang terletak disebelah lemari es. Sedangkan di sisi lainnya terlihat meja kasir yang hanya dihiasi lampu neon panjang di bawahnya. Sekilas lebih nampak warung makan lesehan. Terlalu sederhana untuk disebut cafe. Hanya lightbox bertuliskan “De Latte Cafe” di depan dekat tempat parkir yang memastikan bahwa ruko itu bukan warung makan.
Yusuf, salah satu diantara dua karyawan yang mendapat tugas jaga dihari itu terlihat duduk termenung di meja kecil yang terletak tepat didepan meja kasir. Dari tatapan matanya terlihat ia seperti sedang mengharapkan sesuatu. Lama ia disitu, didepannya terlihat notebook yang sedang menyala, tetapi seakan bukan notebook yang ia perhatikan. Tatapannya kosong penuh pengharapan, sepertinya ia memendam perasaan.
Tiga puluh menit berlalu, nampak sepasang muda-mudi yang yang memarkirkan sepeda motor didepan cafe, mereka berjalan perlahan sambil bercanda mesra hingga langkahnya terhenti dan duduk di samping salah satu meja kecil. Sejenak Yusuf tertegun melihat romantisnya pasangan itu sambil membayangkan sesuatu, lalu bergegas mengambil nota dan buku menu untuk ditawarkan kepada pasangan muda-mudi itu. Sementara rekan kerja yang satu masih asyik berselancar dengan notebook miliknya.
Ya, tempat itu memang dilengkapi layanan free hotspot. Dua karyawan cafe yang mendapat tugas jaga juga selalu membawa notebook masing-masing saat bertugas. Sekadar mengisi waktu luang kalau keadaan cafe sedang sepi pelanggan. Sepasang muda-mudi yang baru saja datang juga melakukan hal yang sama. Sambil menunggu pesanannya selesai disajikan, mereka terlihat asyik menikmati sejuknya jaringan wi-fi.
“Huh.. kamu tuh gimana sih cup? Kenapa krimnya nggak dimasukin lagi ke frezzer?” Begitu kata rekan kerja yusuf mengagetkan, lalu memasukkan krim ke frezzer. Ia selalu memanggil Yusuf dengan sebutan Ucup.
“Oh iya aku lupa, hehe maaf maaf..”
Tentu saja percakapan tersebut terjadi beberapa saat setelah sepasang muda-mudi tadi pergi, setelah sebelumnya mereka sempat online sekitar 1 jam di cafe.
Malam itu memang tak seperti biasanya. Yusuf banyak terdiam seperti menyembuyikan sesuatu. Perasaan yang seharusnya bisa ia ungkapkan pada seseorang, terpaksa diurungkan.
Dua jam berlalu, ruko kecil itu terlihat masih sepi. Sekilas Yusuf teringat kembali oleh sepasang muda-mudi yang tadi berlanggan ke cafe. Ia membayangkan seandainya Ia berada dalam posisi itu, bersama dengan wanita yang Ia sukai. Bercanda mesra. Oh indahnya dunia ini..
Bersambung entah kapan..

0 komentar:
Posting Komentar