Jumat, April 27, 2012

Hari Kedelapan…

Hari ini adalah hari kedelapan saya bekerja.
Sebelumnya mohon maaf Saya tidak menceritakan kapan mulai kerja, tiba-tiba sudah hari kedelapan Flirt male
Pembaca jangan shock, biasa aja, santai, harap dimaklumi karena delapan hari yang lalu adalah perrtama kalinya saya mengais rupiah dalam sejarah hidup saya, benar-benar tidak ada otot dan otak buat nulis. Seluruh tenaga dan pikiran saya hanya untuk konsentrasi kerja. Kuliah aja berantakan, mana sempat menulis?
Oke, kembali kejalan yang benar!
Hari kedelapan ini adalah hari paling menegangkan! Mensalahtingkahkan!! Menggrogikan!!!
Bos saya datang ke tempat kerja!
#Jederrrrrr!!! LightningStorm cloudStorm cloud
 
Maaf saya yang shock berat..!
Tadi banyak sekali yang ingin saya tulis, sekarang hilang semua Crying face

Jumat, April 20, 2012

April, Bulan Produktif untuk Menulis

Semarang (20/4) – Tercatat 3 judul posting, Empat dengan yang ini telah aku terbitkan terhitung sejak tanggal 1 april 2012. Pengangguran dan banyaknya waktu luang menjadi pemicu utama suburnya inspirasi penulis. Terlebih dengan frustasinya Sang Penulis karena cintanya yang selalu ditolak. Bukan cinta, tetapi judul skripsi.
Sebagai seorang mahasiswa papan atas, dalam hal ini semester 8, Skripsi menjadi kebutuhan pokok demi mendapatkan gelar sarjana. Namun apa jadinya jika judul saja selalu ditolak??
Jawabannya sudah bisa ditebak. Frustasi lalu bunuh diri!
Ya! Bunuh diri..
Oleh karena itu, pembaca yang setia. Saya mohon maaf apabila selama hidup saya banyak melakukan kesalahan terhadap Anda semua.
Maafkan saya apabila di tulisan saya banyak kata-kata yang menyinggung perasaan anda sebagai pembaca. Maafkan saya yang selalu menyangkal dan menghapus komentar-komentar yang mengejek saya, padahal ejekan itu benar sekali adanya. Maafkan Saya. Saya mohon maaf.. Saya frustasi.. Sad smile Sad smile
Pembaca, tolong jangan cegah saya melakukan ini.. Jangan! Crying face
 
Dan akhirnya,
Seperti biasa posting ini tidak nyambung dari judul, awal, hingga ending-nya yang mengenaskan...

Minggu, April 15, 2012

Here I Share Moments of My Life

Mungkin tak banyak orang yang tahu kalau aku adalah seorang yang tak banyak berbicara. Tentu saja, karena tak banyak orang yang mengenalku. Tentu saja, karena aku tak banyak bicara.
Sebagai seorang yang tak banyak bicara atau nyaris disebut pendiam, aku lebih sering memendam perkataan yang seharusnya bisa aku katakan. Tetapi sebagai manusia aku juga tidak bisa terus memendam segala hal. Ada kalanya ingin aku membuang semua yang ada di hati dan pikiranku.
Dan disaat aku ingin mencurahkanya, aku lebih memilih untuk menerjemahkannya dalam tulisan. Dan aku memilih blogging untuk mencurahkan sebagian besar uneg-unegku.
Hasilnya, aku cerewet di Blogger.
Sebenarnya aku bukanlah orang yang pandai menulis, bukanlah orang cerdas, dan bahkan bukan penulis yang cool. Bukan!
Dan aku tidak mengharapkan menjadi seperti itu. Tidak!
Aku hanya menuliskan apa yang ada dalam hati, pikiran, dan perasaanku saja. Sama seperti orang cerewet yang selalu ngobrol ini itu saat bertemu dengan orang lain dan seakan tak kehabisan bahan pembicaraan.
Bedanya, aku cerewet di dunia maya.
Tak hanya blogging. Hampir disemua hal yang berhubungan dengan maya aku selalu cerewet. Salah satunya chatting.
Saat chatting, banyak yang bilang aku ini lucu, bawel, aneh, enak diajak ngobrol, bahkan ada juga yang pernah jatuh cinta hanya karena chatt semalaman. Aku patut bangga dengan kelebihanku ini.
Begitu banyak hal yang aku bisa banggakan dari dunia maya. Meskipun di dunia nyata hanya ada satu pujian untukku. Pendiam.
Kadang aku mengeluh, merasa ingin berubah.
Aku mencoba menerjemankan tulisan-tulisanku menjadi kata-kata nyata. Mencoba ikut membicarakan hal-hal yang menurutku tidak penting. Mencoba nyambung dengan apa yang dibicarakan teman-teman. Semuanya ku lakukan agar aku terlihat lebih cerewet.
Dan hasilnya, aku hanya agak tidak pendiam.
Hmm.. sungguh keberhasilan yang sangat besar!
Mungkin aku harus berusaha lebih keras lagi.. (to be continue)

Sabtu, April 14, 2012

Kisah Nyata Seorang Pramugari dan Seorang Kakek

Saya adalah seorang pramugari biasa dari china Airline. Karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap harinya hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 17 juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari shanghai menuju peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua, dan terlihat jelas sekali gaya desanya. Pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju, seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minum, ketika melewati baris 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakan mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkan duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ketoilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarang, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ketoilet, pada saat menyajikan minum yang ke dua kali, kami melihat dia melirik kepenumpang sebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakkan segelas minuman teh dimeja dia. Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Saat kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya. Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja dikota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat 3 di Peking. Anak sulung yang bekerja dikota menjemput kedua orangtuanya untuk tinggal bersama dikota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orangtua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking. Anak sulungnya tidak tega orangtua tersebut naik mobil megitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama – sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri. Akhirnya dengan terpaksa disetujui dengan anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai oleh anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakkan karung tersebut diatas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati – hati dia meletakkan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil ? dan meminta saya meletakkan makanannya dikantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga. Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri , perbuatan yang tulus tersebut benar – benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut menyembah kami, mengucap terima kasih bertubi – tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tau bagaimana mengucap terima kasih kepada kalian.

Semoga tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam – beragam penumpang saya sudah jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain – lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya.

Janganlah kalian memandang orang dari penampilan luar, tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

 

Anonim. “kisah nyata : Seorang Pramugari dan seorang kakek (sangat mengharukan).” http://www.kaskus.us/showthread.php?t=13550427 (diakses tanggal 14 April 2012

Sabtu, April 07, 2012

Kuliahku Kacau Gara-Gara Ini !

Ini nih akibat dari kecanduan blogging..
Ya! Blogging!!
Tugas Makro Ekonomi enggak sempat dikerjakan. Tugas mingguan Pasar Modal juga belum dikerjakan padahal udah 4 minggu, berarti ada 4 tugas yang menanti untuk diketik.
Tetapi apa yang aku lakukan? Bukannya mengerjakan tugas, Aku malah curhat disini! Dan curhatnya juga tentang tugas dua mata kuliah itu!! Gila benerrrrrrrr....! Udah inget ada tugas, nggak dikerjain satu satu tapi malah mengeluh disini.. kalo gini kapan tugasnya dikerjain?? “Kumpulin minggu depan aja ah..” Selalu kata-kata itu yang memotivasiku untuk blogging.
Udah, segini aja ah postingnya.